Skip to main content

A Moment with Bian

 

Pinterest

Hujan turun 5 menit yang lalu. Kami menepi disebuah toko tutup pinggir jalan. Hujannya tidak terlalu deras, tetapi cukup membuat basah sehingga kami memutuskan untuk menepi. Dia dengan tenang melihat rintik hujan, tangannya ia ulurkan untuk menyentuh hujan. Aku tanpa sadar mengikuti. Entah kenapa hujan kali ini terasa berbeda.

”Mau lanjut jalan?”

Aku hanya mengangguk setuju, kebetulan hujannya sudah mulai reda. Aku merapatkan kedua tanganku. Sebelum itu, ia keluarkan jas hujan dari bagasi motor lalu menyodorkannya padaku.

”Pake, biar enggak basah kehujanan”

Aku menolak, supaya dia saja yang kenakan, tetapi dia tidak bisa menerima penolakan.

”Kamu aja yang pake” kukuhnya.

Hanya ada satu jas hujan, itu berarti dia akan basah kehujanan. Seperti bisa membaca raut wajahku, dia bersuara “Aku ada jaket. Jadi, sekarang pake jas hujannya”.

Dengan berat hati aku pakai jas hujan. Dia cekatan membantu, tangannya ia ulurkan untuk mengambil alih resleting yang tengah kupasang. Aku hanya bisa terdiam memperhatikan dia merapihkan jas hujan. Garis wajahnya terlihat jelas dalam pandanganku. Pandanganku seolah-olah terkunci, sesaat kemudian kualihkan pandangan karena merasa malu sendiri.

”Udah ayo” ajaknya.

Dibelakang punggung tegap itu, aku bergelut dengan perasaan kusendiri. Aku mulai mempertanyakan apa gerangan hal yang tengah kurasakan ini. Aku hanya terdiam, sembari menikmati udara dingin selepas hujan, sebuk dengan isi pikiranku sendiri.

Beberapa lama kemudian kami telah sampai tujuan. Tujuan kali ini adalah sebuah perkebunan teh, PT. Greentea Indonesia salah satu perkebunan milik negara. Kami akan melakukan observasi tugas tentang bagaimana pengolahan teh untuk memenuhi tugas observasi Bahasa Indonesia. Tidak lama kami sampai, kami langsung bertemu dengan orang bersangkutan sehingga proses observasi kami tak terlalu lama. Kami mengajukan pertanyaan sesuai dengan tujuan. Kami juga diajak berkeliling untuk ditunjukkan secara langsung bagaimana teh diproses setelah dipetik dari kebun.

”Proses pengolahan teh di sini menggunakan  orthodox rotorvane system. Yaitu suatu proses dengan urutan pengolahan dimulai dari pemetikan, pelayuan, penggilingan, oksidasi atau fermentasi, dan pengeringan. Berbeda dengan sistem CTC, kalau sistem ini lebih modern yang nantinya menghasilkan teh dengan partikel yang lebih kecil dan lebih berdebu” jelas, Pak Michael, salah satu pengelola dan penanggungjawab PT. Green Tea Indonesia. Beliau seorang blasteran, ada darah Belanda dari sang kakek dalam dirinya. Ketika berumur 9 tahun dia pindah ke Indonesia mengikuti  ibu dan ayahnya yang berpindah karena pekerjaan lalu menetap sampai sekarang, ceritanya.

--

Data yang kami dapatkan lebih dari cukup. Pak Michael sangat baik, sebelum pulang kami diajak meminum teh terlebih dahulu sembari berbincang ringan.

”Terima kasih Pak atas waktu dan sudah berkenan untuk membantu kami” dia mengucapkan terima kasih dengan penuh ketulusan.

”Tidak masalah, santai saja. Nanti, main lagi saja ke sini jangan sungkan-sungkan” balasnya hangat.

”Pasti Pak,”

Kemudian kami berpamitan.

Hujan masih belum menyerah. Ia dengan segenap cerita seluruh manusia di muka bumi di baliknya, masih setia membasahi bumi bahkan lebih deras dari sebelumnya. Kami tetap melanjutkan perjalanan, menorobos hujan.

”Mau mampir dulu?!”

”Hah?!”

”Mau mampir dulu?”

”Hah?!”

”Kamu cantik-cantik budeg” rutuknya tidak terdengar jelas dibalik suara hujan deras.

Sebelum aku bersuara menjawab, dia sudah melipirkan motornya pada sebuah warung kopi. Sedikit ramai, banyak orang-orang yang juga berteduh sekaligus menikmati kopi untuk menghangatkan diri. Bian, manusia yang tengah bersamaku tanpa kata langsung membawa diri untuk duduk di salah satu meja kosong di ujung lalu langsung memesan.

”Ini diminum dulu biar enggak dingin”, menyodorkan segelas susu jahe dengan asap yang masih mengepul.

”Suka susu kan?

Sebetulnya aku tidak suka susu, perutku tidak cocok. Sebagai bentuk menghargai karena sudah berinisiatif memesankan untukku jadi kujawab, ”Suka. Terima kasih.”

Dan betul saja, selepas pulang tak terhitung berapa kali bulak-balik kamar mandi. Perutku terasa seperti dikocok, mual dan pusing di kepala. Reda kemudian setelah ibu mengoleskan kayu putih diperut dan sekitar punggungku. memang sih kayu putih obat dari segala obat.

---

Aku menarik nafas berat sembari menatap daun kresen yang melambai-lambai tenang tersapu angin. Udara pagi terasa segar, setidaknya itu yang bisa kusimpulkan. Matahari diujung timur mulai menampakkan dirinya. Aku tengah memakai sepatuku, tak lupa jinjingan yang tak pernah tertinggal berisi bekal dan air minum. Hari ini berangkat lebih pagi dari biasanya. Selain karena hari senin, juga ada tugas yang harus kuselesaikan. Semalam bukannya mengerjakan, aku ketiduran. Mungkin efek sakit perut karena minum susu dan sedikit demam.

Sesampinya di sekolah, masih belum banyak siswa yang datang. Aku datang paling awal. Pak Caraka masih membereskan sampah-sampah beserakan kemudian tersenyum ketika berpapasan. Aku langsung menuju kelasku. Jaraknya tak jauh dari gerbang depan, melewati dua kelas, belok kiri melewati dua kelas lagi, sampai.

Aku membuka pintu.

”Woaaaaaa” Seketika aku menjerit. Orang yang mengagetkanku hanya tertawa terbahak. Sialan.

”Biannnnnnn!!!!”

”Udah dong jangan marah, Gue cuman bercanda”

”Tapi bercandanya enggak lucu. Masih pagi tau, gimana kalo aku jantungan?! Mau tanggung jawab?!”

”Emang Lu mau jantungan?”

”Enggak mau sih”

”Udah jangan marah, ayo lanjut kerjain tugas yang belum selesai. Nanti gue kasih jajan”

Yeah, tugas laporan observasi kami belum selesai. Tinggal sedikit revisi dan memasukkan data tambahan dari Bian. Jika pagi ini sudah selesai, maka nanti di jam pelajaran ketiga kami siap melaporkan dan mempresentasikan hasil obeservasi kami.

--

Bian itu, spesial. Sebetulnya sejak awal pertama kami kenal, aku menaruh perhatian khusus padanya. Aku menyukainya. Bagaimana dia tersenyum, bagaimana dia berinteraksi dengan teman-teman, dan bagaimana dia memecahkan masalah. Dia tampak bersinar dan menawan di mataku. Suaranya lembut. Apapun yang dia lakukan selalu spesial. Matanya cantik, setiap kali bersitatap dengannya aku tak sanggup bertatapan lebih dari tiga detik. Aku takut tenggelam lebih dalam pada pesonanya, sekalipun tanpa kusadari aku sudah dalam tenggelam.

Sadar atau tidak, aku selalu mencuri tatap untuk memandangnya. Suatu hari, entah bagaimana ceritanya kami bisa satu tim, yaitu pada tugas observasi. Aku senang sekaligus bingung. Apa yang harus kulakukan saat nanti mengerjakan tugas jika mata ini tak bisa berpaling. Aku selalu ingin menatapnya, mengabadikan keindahannya pada memori ingatanku.

Ketika aku melamun, seseorang menyodorkan teh kotak dingin.

”Ini minum!” aku hanya terpaku, ”Udah ambil aja” sambil berlalu.

Gimana aku tidak bisa berharap coba kalau Bian seperhatian ini. Tapi, dia memang seperti itu. Perhatian pada setiap teman yang sekelompok dengannya. Buktinya, Nela, pernah kegeeran karena dibelikan sarapan dan diantar pulang selepas mengerjakan tugas. Hadeh, boleh tidak kalau aku berharap bahwa perhatian Bian kali ini berbeda.

--

Tugas observasi kami selesai. Kami berhasi mendapatkan nilai paling tinggi karena  ada poin-poin tambahan yang membuat laporan kami berbeda dari yang lainnya. Setelah tugas itu selesai, tak ada interaksi berarti antara aku dan Bian. Kami seperti kembali pada titik semula, hanya saling menyapa jika berpapasan saja.

Aku merasa kehilangan sesuatu, hal yang biasanya ada jadi bagian pengisi hari kini lebih dekat dengan sepi. Aku tak punya alasan untuk bercengkrama dengannya. Aku hanya diam, memikirkan Bian yang semakin hari berlarian dalam pikiran. Aku harus menemukan alasan, supaya bisa bercengkrama dengannya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, jas hujan!. Jas hujan itu masih ada di rumahku. Ketika itu aku tak langsung membukanya, kata Bian pakai saja dulu.

Besok, akan kukembalikan.

Aku duduk termenung di kursiku. Menutup catatan yang mulai membuatku muak. Aksaranya terlihat berlarian seperti meledekku. Ah, aku bena-benar tidak berdaya dan membosankan.

”Duakkk!”

Kepala ku sakit. Sesuatu mengenai kepalaku.

”La, Lo enggak papa?”

”Aww...Sakit...”

”Maaf gue enggak sengaja, ini minum dulu”

Aku menatap Bian dengan sedikit kesal sambil memegangi kepalaku. Dia menyodorkan teh kotak lagi. Seolah-olah teh kotak adalah jawaban untuk segala situasi.

"Minum ini, La. Gue beneran enggak sengaja," katanya, suaranya terdengar tulus.

Aku mengambil teh itu tanpa bicara. Tidak lama kemudian, Bian duduk di depanku, mencoba mencairkan suasana.

"Jadi, jas hujan gue aman, kan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku hampir lupa soal itu. "Iya, aman kok. Mau aku balikin sekarang?"

"Enggak usah buru-buru. Pakai aja terus kalau perlu."

Aku menatapnya bingung. "Tapi kan itu punya lo."

Bian mengangkat bahu santai. "Enggak masalah. Kalau lo pakai itu, gue jadi tahu ada alasan buat ngobrol sama lo lagi."

Aku tercekat. Kalimatnya menggantung di udara, begitu saja, membuat dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang hangat. Aku mencoba merespons, tapi yang keluar hanya suara kecil, "Maksudnya?"

Bian tersenyum. "La, lo tahu enggak? Gue senang banget waktu kita dapat nilai tertinggi kemarin. Tapi yang paling bikin gue senang itu karena gue bisa sekelompok bareng lo. Gue suka caranya lo serius, tapi masih bisa ketawa kalau gue bikin bercandaan."

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Tapi sebelum aku sempat berpikir lebih jauh, Bian melanjutkan.

"Gue enggak tahu sih, ini perasaan yang aneh. Tapi gue suka ada lo di sekitar gue. Kalau gue kasih teh kotak, itu cuma alasan biar lo enggak lupa gue ada."

Dia tertawa kecil setelah mengatakannya, tapi aku tahu dia serius. Jantungku berdebar kencang. Aku berusaha keras untuk tidak salah tangkap, tapi sulit untuk menahan harapan yang tiba-tiba meluap.

"Jadi... itu artinya apa, Bian?" tanyaku pelan, nyaris berbisik.

Dia menatapku lama, seakan mencari kata-kata yang tepat. "Artinya... gue enggak mau lo cuma jadi teman biasa, La. Gue mau lebih dari itu."

Aku terdiam. Kata-katanya membuat segalanya terasa berhenti. Bahkan hujan di luar jendela terasa tidak ada suaranya.

"Apa gue salah ngomong?" tanyanya ragu.

Aku menggeleng cepat. "Enggak, enggak salah. Gue cuma... enggak nyangka lo bisa bilang itu."

Dia tertawa pelan, sedikit lega. "Ya udah, kalau gitu, gue tunggu jawabannya."

Aku mengangguk, tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti hujan akhirnya berhenti—dan langit mulai cerah kembali.

Comments

Mungkin kamu suka:

Kenapa Sebuah Jam tangan bisa seharga Jutaan bahkan Miliaran rupiah Rolex, Patek philippe, swiss

Kenapa hanya sebuah jam tangan bisa semahal itu? Hingga ratusan juta. Beberapa minggu lalu saya melihat salah satu vidio kumpulan vidio tiktok yang lagi rame di facebook. Salah satu vidio yang membuat saya tertarik adalah vidio dengan username @Indrakenz, kalian pasti tau dong dia siapa? Pastilah sudah tak asing lagi dengan nama itu. Namanya yang akhir-akhir ini sering muncul di layar beranda sosial media kalian (mungkin, karena di beranda saya dia sering muncul). Orang bilang dia sultan. Setelah saya melihat dan telusuri lebih dalam lagi ternyata emang benar dia sultan hehe.  Karena, cara dia membuat vidio atau menyampaikan ekspresinya dalam akun tik tok pribadinya tak jarang banyak netizen yang gemas dengan tingkah sosok sultan tersebut. Karena terkesan pamer dan sombong dengan kekayaan yang dia punya.Tapi akhir-akhir ini banyak juga yang bilang kalo sosok Indra ini adalah salah satu panutan untuk terus berusaha dalam menggapai kesuksesan. Dalam vidionya terkadang ser...

Maaf ya saya jadi berharap banyak

Salahnya saya selalu menyandarkan harapan pada sesuatu. Lebih seringnya pada orang, bahkan ke orang yang baru saya temui pun saya sering menggantungkan harapan dipundaknya. Besar harapan bahwa mereka yang saya gantungi harapan bisa memenuhi harapan-harapan saya. Ternyata tetap saja epilognya kalau menyandarkan harapan pada seseorang itu akan sad ending atau berakhir tidak baik. Karena salah tempat menggantungkan harapan. Satu-satunya tempat yang paling tepat untuk menggantungkan harapa-harapan kita adalah hanya kepada Allah SWT. Allah tempat bergantung atas segala sesuatu. Di jamin deh enggak bakal kecewa. Saya juga sedang berharap banyak, pada seseorang yang tidak sengaja saya temui entah bagaimana memulainya kita terhubung. Saya seperti biasa tidak bisa mengontrol kadar harapan saya, saya selalu membubuhi dia di balik bayangannya harapan yang tinggi. Pada akhirnya ketika hal-hal yang saya harapkan tidak sesuai, saya berakhir kecewa. Sebelum melanjutkan harapan-harapan saya, saya berp...

Cakue Special untuk Sehan

Penawaran Pertama Mau saya belikan cakue?, kebetulan saya lagi mampir jajan dulu 17.54 Tawarku melalui pesan singkat yang sengaja kirim. Entah, ketika aku mengetik penawaran itu rasanya sedikit hm.. malu? Sekaligus senang. Karena dengan sedikit keberanian yang kupunya, akhirnya aku bisa menawarinya jajanan favoritku. Status di bawah nama kontak itu berubah menjadi mengetik, menandakan dia sedang mengetik untuk membalas pesan yang kukirimkan. Aku dengan harap cemas memperhatikan status mengetik itu. Aku tidak sabar menunggu balasannya. Enggak 17.56 Singkat, jelas dan padat. Sial. Sebenanya jawaban yang dia berikan cukup membuat aku tersadar, bahwa kita sejauh itu. Aku tidak sedekat itu untuk menawari apa yang ingin aku beli. Sedikit memutar otak, kutemukan jawaban yang pas  untuk mengalihkan perasaan ngenesku karena tawaran ditolak. Kalaupun mau juga beli sendiri sih wkwk 17.56 Jawabku agar penawaran yang sebelumnya terkesan sekedar basa-basi. Dia menjawab. Tuh kan, udah ketebak bak...

Cerpen horor| Misteri jendela kamar

  Misteri Jendela Kamar Oke, aku akan menceritakan kisahku. Mungkin ini cerita pertamaku tentang hal yang berbau mistis aku yang baru mengalaminya pertama kali agak sedikit merinding dan takut. Oke, aku akan mulai menceritakannya.        Ada kejadian janggal di rumahku, kejadian janggal itu sering terjadi setelah mamah aku memutuskan untuk  bekerja dan meninggalkan aku bersama adik ku. Ya aku biasa tinggal di rumah berdua bersama adiku, tapi terkadang adiku menginap bersama temannya sehingga aku sendirian. Aku bisa saja menginap di rumah nenek ku yang tak jauh dari rumah hanya terhalang tiga rumah (cukup dekat bukan?) Tapi karena aku malas untuk keluar ya sudah aku di rumah saja ditemani oleh musik yang melantun dari handhpone. Bisa di bilang aku orangnya pemberani (๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜‚sombong amat) aku nggak percaya sama yang namanya hantu, pocong atau apapun lah itu namanya, aku sama sekali gak percaya. Meskipun banyak orang yang bilang kalo malam2 itu se...

Minta Tolong

|Terima kasih sudah berkunjung. Ini merupakan bagian dari projek pembiasaan menulis di bulan Februari. 29 hari penuh cerita| Hai. Hari ini ada yang harus kulakukan yaitu followup surat permohonan bantuan piala dan kesedian sambutan kepada bapak Bupati Cianjur untuk acara Ngamumule Budaya Sunda yang diajukan jum'at lalu (26/01/24). Ternyata setelah dikonfirmasi lebih lanjut suratnya masih dalam tahap proses. Jadi, kemungkinan 1-2 hari kedepan kita ke Pemda  lagi. Sebelum berangkat atau mungkin sedari semalam aku memikirkan hal apa yang harus kulakukan setelah dari Pemda atau kemana baiknya aku pergi? Diam di pedestrian sembari menikmati roti dan lalu lalang kendaraan, jalan-jalan di sepanjang trotoar, ke pasar meski hanya sekedar lihat-lihat, menelusuri Pemda, mejeng di alun-alun atau ke Pusda? Pilihanku jatuh ke opsi terakhir yaitu, Pusda. Aku enggak bawa Blacky (motor yang biasa kupakai), pagi tadi berangkat dianterin. Sebelum benar-benar keluar dari Pemda aku memikirk...

4 Alasan Saya Malas Update Blog

Hallo, ini Drie. Hari ini saya tidak sengaja melihat update-an di laman facebook Kumpulan Emak-Emak Blogger tentang blog challenge satu hari satu post, dalam rangka menyambut hari Blogger yang jatuh pada 27 Oktober nanti. Setelah saya cermati, ternyata saya tertarik untuk mengikuti challenge tersebut. Kebetulan saya memang sedang mengkomitmenkan diri untuk konsisten menulis lagi, untuk mencairkan kebekuan kata dalam otak saya, kekakuan saya dalam menulis dan keasiangan saya dengan cerita. Challenge ini akan saya jadikan sebagai pemantik untuk menulis dan aktif lagi ngeblog, agar ‘rumah’ tempat saya menumpahkan cerita kembali lagi hidup dan terisi. Blog challenge ini akan dilaksanakan mulai dari 19 Oktober s.d 25 Oktober dengan tema berbeda setiap harinya. Tentunya ini akan menjadi tantangan tersendiri buat saya, dan semoga saya bisa berkomitmen hehehe. Bisa lah ya? Cuman 7 hari aja kok . Mari kita lihat, Drie semoga kamu berhasil. Tulisan pertama ini akan membahas men...

Hal-hal yang saya sadari ketika tidak menulis

|Terima kasih sudah berkunjung. Ini merupakan bagian dari project pembiasaan diri menulis, jadi selamat berkelana| Hi, Sudah lima hari saya enggak menulis untuk melaporkan kegiatan atau perasaan saya. Dan saya menyesal karena pikiran saya tidak tertuang dengan baik. Saya telah membiarkannya menumpuk dalam kepala hingga rasanya ingin pecah. Lima hari ini kepala saya penuh dengan kemarahan-kemarahan kecil yang sengaja saya sembunyikan, rasa kecewa yang entah bagaimana hinggap di kepala (lagi), rasa sedih yang kembali mengkungkungi hati dan rasa takut yang menjelma bayangan senantiasa memeluk jiwa. Saya kembali terlena oleh luka-luka dan rasa takut dari masa lalu. Saya kembali terjebak pada pikiran-pikiran keraguan hingga saya ingin berhenti dan menyerah. Melihat diri seperti itu, saya merenung dan berusaha menganalisis perasaan yang dirasakan dan tetap menjaga kesadaran agar tetap bisa mengendalikan diri. Hal-hal yang tidak saya tulis adalah hal-hal yang saya selalu lari darinya. Keti...